Senin, 28 Februari 2011

Budaya Jejaring Sosial


Puluhan juta orang menggunakan facebook untuk berbagai tujuan yang berbedda-beda, dari hanya sekedar iseng ,mencariteman ,jodoh,sampai dengan mencari uang dari dunia maya.
Pengguna facebook berasal dari background yang berbeda-beda dari yang hanya mengetahui ala kadarnya,sampai dengan yang pakar,dari muda sampai dengan yang tua.
Pada masa awal internet, usenet atau newsproup mungkin tergolong paling popular sebagai ruang untuk bergaul dan memperluas jaringan persahabatan ,kemudianmuncullah chat room orang lebih suka bergaul di chat room di server IRC,banyak orang menemukan teman ,lalu muncul lagi friendster dan lalu facebook.
Salah satu masalah bergaul di internet adalah komunikasi tidak langsung .kalau dia itu kenalan baru ,kita tidak tau secara persis seperti apa karakternyadan kita tidah tahu wajahnya .kita tidak tahu kenalan baru itu cwe atau cwo,bahkan apakah kenala baru kita itu benar-benar ada, inilah gebrakan baru yang diberikan oleh jejaring social facebook kita tidak pernah ragu berkenalan dengan orang yang dikenalteman kita sendiri,inilah yang membuat facebook begitu popular sebagai software jejaring social .lewat facebook kita tidak ragu lagi berkenalan dengan orang baru.di facebook kita bergaul dengan temannya teman dari teman kita.
Bukan Cuma berkenalan dengan orang-orang baru ,lewat FB kita akan lebih mudah menemukan teman-teman lama kita ,FB banyak memberikan fasilitas dan aplikasi yang bias kita gunakan contohnya sepert notification adalah fasilitas pemberitahuan tentang apa saja yang terjadi pada akunfacebook,chat untuk ngobrol bersama teman yang on line, dan masih banyak fasilitas lain yang di berikan ,di FB kita bias membuat grub atau komunitas contohnya grup kelas 5 KA 20 universitas gunadarma, dalam grub ini adalah kumpulan mahasiswa kelas 5 KA 20,di dalam grub kita bisa berbagi dan bertukar informasi sesama teman.
Facebook juga sebagai lading bisnis,bisnis ini kita kenal dengan nama e-business,e-commerce,bisnis ini akan berjalan jika ada penjual,barang yang di jual atau jasa ,pembeli ,jasa pengiriman barang ,metode pembayaran online ,ATM,setoran bank dengan hal tersebut kita sudah dapat menjual barang atau jasa melalui internet.
Facebook juga banya orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan melakuan perusakan yaitu hacker dengan cara mencuri user ID akun yang kita miliki,untuk tujuan phising atau sekedar iseng saja,phising adalah pencurian data yang dilakukan oleh sesorang terhadap data yang kita miliki,selain itu juga banyaknya predaran pornografi di jejaring social FB yang di lakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, maka dari itu kita sebagai pengguna FB haruslah berhati-hati dan harus pilih-pilih teman yang baik,dan kita harus melindungi data pribadi kita,untuk mengurangi resiko Phising yaitu jangan terbiasa mengisi nomer telepon di profil,jangan menulis alamat lengkap di profil,batasi profil untuk teman-teman saja,dan jangan mencantumkan alamat email kita untuk menghindari hacking.

referensi : http://andikatriwibawa.blogspot.com/2010/12/budaya-jejaring-sosial-facebook.html

Budaya Valentine


Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day) atau disebut juga Hari Kasih Sayang, pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun.[1] Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya Valentine itu merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.
Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Valentine

Copy Paste Memang Sudah Membudaya


Kemajuan teknologi informasi dalam beberapa tahun terakhir ini sangat luar biasa. Perkembangan teknologi ini menimbulkan dampak negatif dan positif. Perlahan tapi pasti
melahirkan budaya baru yaitu copy paste.
Parahnya, hal ini telah merambah ke dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan. Satu contoh kasus adalah kebiasaan copy paste yang dilakukan para mahasiswa maupun dosen. Baik saat mengerjakan tugas maupun membuat penelitian.
MAHASISWA termasuk kaum intelektual. Untuk memenuhi standar intelektualitas, mahasiswa diberi tugas berupa penulisan makalah, penelitian, resume buku, atau presentasi. Karena tugas intelektualitas itulah yang membedakan mahasiswa dari pelajar. Mereka semestinya bukan hanya mampu menghafal setiap mata pelajaran, melainkan juga dituntut mampu mengembangkan dan menyikapi secara kritis.
Banyak tugas dari dosen membuat mereka memilih hal-hal praktis atau instan untuk menyelesaikan permasalahan. Tak ayal, copy paste merupakan solusi termudah untuk menunaikan tanggung jawab intelektualitas. Mereka tinggal dua kali mengeklik, permasalahan dan tugas pun terselesaikan. Semua telah tersedia. Tak ada lagi batas ruang dan waktu dalam ilmu dan informasi. Semua akses ada dan tersedia dengan cepat.

Copy paste menjadi solusi praktis dan lazim bagi mahasiswa. Ironisnya, mahasiswa tak pernah memikirkan bahaya copy paste, yaitu memampatkan budaya kritis dan pola pikir. Itu sama berbahaya dengan mengonsumsi narkoba atau minuman keras karena menjadikan mahasiswa tanpa pemikiran. Mereka cenderung mengambil sikap dan hal-hal praktis atau instan, tanpa disertai pertimbangan rasional-intelektual. Lantas, di manakah peran mahasiswa sebagai kaum intelektual di masyarakat, jika hanya copy paste apa pun?
Krisis Jati Diri Taylor menyatakan, salah satu aspek kebudayaan adalah norma atau perilaku terpilih yang dianut sebagian besar masyarakat. Copy paste dipilih dan dianut oleh sebagian besar mahasiswa, sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan membudaya. Budaya copy paste dilatarbelakangi oleh kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa. Akibatnya, tergeruslah jati diri mahasiswa. Mereka tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir.

Proses copy paste tak hanya menjadikan mahasiswa sebagai pemikir praktis atau instan, tetapi juga sebagai peniru pasif yang hanya menjadi pengikut, pembebek, dari berbagai macam yang menjadi kecenderungan saat ini. Mereka mudah sekali terjebak dan terbawa arus hedonisme dan materialisme, tanpa filterisasi dalam diri. Jadilah mereka kaum konsumtif, tanpa pernah berpikir dan bertindak produktif, apalagi turut  berperan di masyarakat.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual di masyarakat memiliki tiga peran utama. Pertama, sebagai pentransfer ilmu, teknologi, dan nilai. Mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu, turut serta dalam memberantas kebodohan. Sebagai pengguna terdekat teknologi, mahasiswa berperan menggunakan dan menciptakan teknologi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sebagai pentransfer nilai, diharapkan mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.

Kedua, mahasiswa sebagai agent of change, agen perubahan, turut serta dalam proses pembangunan dan pergerakan. Dalam pembangunan masyarakat dan bangsa, mahasiswa merupakan sumber daya manusia yang potensial karena terdidik dan terpelajar.

Dalam pergerakan, mahasiswa diharapkan mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa. Ketiga, mahasiswa sebagai kaum intelektual semestinya mampu mempertanggungjawabkan intelektualitasnya pada diri sendiri dan masyarakat. 

Budaya copy paste membuat ruang kritis mahasiswa menyempit. Itu terlihat dari makin minim budaya membaca, budaya diskusi, dan budaya beprestasi. Padahal, budaya-budaya itu merupakan penumbuh budaya intelektual. Jika budaya-budaya itu tergusur oleh budaya copy paste, tergusurlah ranah intelektualitas yang seharusnya dimiliki kalangan mahasiswa.

Sebenarnya copy paste boleh-boleh saja, asal tidak meninggalkan unsur kekritisan. Karena kekritisan akan memunculkan budaya baru, yaitu budaya kreatif dan produktif. Tanpa kekritisan akan mengakibatkan kematian dalam berpikir. Kematian berpikir tentu mengakibatkan kematian bertindak.

referensi : http://gresnews.com/ch/Education/cl/Buku/id/1876705/read/1/Budaya-Copy-Paste-Mahasiswa